Skip to content

Ba-kul

RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

A. Pendahuluan :

            Naluri manusia untuk selamat dan sehat dalam melakukan aktifitasnya  terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan serta keanekaragaman penyebab  kecelakaan dalam melaksanaan suatu pekerjaan. Penemuan-penemuan akan pelindung diri banyak kita jumpai dan bahkan kita pakai sehari-hari, misalnya sandal dan sepatu untuk melindungi kaki dari benda tajam dan panas demikian juga dengan pakaian walaupun dalam  perkembangannya beralih menjadi barang aksesoris namun fungsi utamanya tidaklah bergeser.

            Ketika suatu pekerjaan dilakukan secara sendiri-sendiri tidaklah terlalu sulit untuk mencegah terjadinya suatu kecelakaan akan tetapi lain halnya apabila pekerjaan itu dilakukan secara berkelompok di suatu tempat dalam waktu yang bersamaan.

            Perkembangan dari sejarah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dimulai pada tahun 1700 SM oleh Raja Hamurabi di Kerajaan Babylonia yang membuat Undang-undang yang menyatakan bahwa : “Bila seorang ahli bangunan membuat rumah untuk seseorang dan pembuatannya tidak dilaksanakan dengan baik sehingga rumah itu roboh dan menimpa pemilik rumah hingga mati, maka ahli bangunan tersebut harus dibunuh”.

            Pada tahun 1450 Dominico Fontana diberi tugas untuk membangun obelisk ditengah lapangan St. Pieter Roma, dia selalu memberikan instruksi kepada seluruh pekerja untuk memakai topi baja yang telah disediakan untuk seluruh pekerja.

            Dari kejadian-kejadian tersebut, masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja sudah mulai terpikirkan dan dilaksanakan pada waktu itu oleh para ahli.

            Dengan beralihnya kegiatan perekonomian dunia ke revolusi industri yang diawali di Prancis pada abad ke-18, yang juga merubah pemikiran manusia dari bekerja secara sendiri-sendiri menjadi bekerja  berkelompok, menuntut pengembangan pemikiran untuk menjaga dan memelihara keselamatan dan kesehatan karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan karena :Pekerja yang sehat dan produktif menjadi aset strategis. Bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.”

            Pada awalnya tidak ada langkah yang diambil untuk mengurangi kecelakaan kerja, karena apabila kecelakaan kerja maka pengusaha mempekerjakan tenaga baru untuk pekerjaan tersebut. Lama kelamaan seiring ilmu pengetahuan yang semakin meningkat, maka membiarkan korban tanpa menanggung kerugian bagi si-pekerja tersebut merupakan hal yang tidak manusiawi. Akhirnya para pekerja meminta kepada pengusaha untuk mengambil langkah guna menanggulangi masalah kecelakaan kerja yang terjadi.

Langkah yang pertama diambil adalah memberikan perawatan kepada pekerja yang mengalami kecelakaan atas dasar kemanusiaan.

 B. Sistem Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

 Pengertian :

Manajemen adalah  suatu proses kegiatan yang terdiri atas perencanaan,  pengorganisasi, pelaksanaan, pengukuran dan tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya yang ada.

Sistem Manajemen adalah kegiatan manajemen yang teratur dan saling berhubungan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Resiko adalah kesempatan untuk terjadinya cedera/kerugian dari suatu bahaya, atau kombinasi dari kemungkinan dan akibat risiko.

Manajemen Risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan akitivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko.

Kecelakaan : suatu kejadian yang tidak diinginkan, tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian materil, disfungsi atau kerusakan alat/baha, cidera, korban jiwa atau kekacauan produksi.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) : upaya untuk  memelihara keutuhan dan kesempurnaan jasmani & rohani tenaga kerja, hasil karya dan budayanya untuk meningkatkan kesejahteraan (kualitas hidup) tenaga kerja dan masyarakat. Sedangkan secara keilmuan, K3 diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Sistem Manajemen K3 merupakan bagian dari sistem manajamen secara keseluruhan yang dibutuhkan bagi :

*        Pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan  pemeliharaan kebijakan K3.

*        Dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja.

*        Guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Faktor-faktor yg mempengaruhi Kesehatan Tenaga Kerja

1. Beban kerja  (Fisik dan Mental)                      

2. Lingkungan kerja ( Fisik, Kimia, Biologi, Ergonomi, Psikologi )

Bahaya di lingkungan kerja dapat didefinisikan sebagai segala kondisi yang dapat memberi pengaruh yang merugikan terhadap kesehatan atau kesejahteraan orang yang terlibat atau terkait didalamnya.

Kecelakaan tidak harus selalu ada korban manusia atau kekacauan , yang jelas kejadian tersebut telah berdampak menimbulkan kerugian.

Kecelakaan yang terjadi pasti ada faktor penyebabnya, diantaranya :

UNSAFE CONDITION

UNSAFE ACTION

Pendapat berbagai ahli K3 yang cukup radikal, 2 (dua) factor diatas merupakan gejala akibat buruknya penerapan dan kurangnya komitmen manajemen terhadap K3 itu sendiri.

Beberapa contoh UNSAFE CONDITION

Ø        Peralatan kerja yang sudah usang (tidak laik pakai).

Ø        Tempat kerja yang acak-acakan.

Ø        Peralatan kerja yang tidak ergonomis.

Ø        Roda berputar mesin yang tidak dipasang pelindung (penutup).

Ø        Tempat kerja yang terdapat Bahan Kimia Berbahaya yang tidak dilengkapi sarana pengamanan (labeling, rambu) dll.

 Beberapa contoh UNSAFE ACTION :

Ø        Karyawan bekerja tanpa memakai Alat Pelindung Diri

Ø        Pekerja yang mengabaikan Peraturan K3.

Ø        Merokok di daerah Larangan merokok.

Ø        Bersendau gurau pada saat bekerja, dll.

 Pencegahan Kecelakaan dapat dilakukan dengan KONSEP 4-E :

 1. EDUCATION

 Tenaga kerja harus mendapatkan bekal pendidikan & Pelatihan dalam usaha pencegahan kecelakaan. Pelatihan K3 harus diberikan secara berjenjang dan berkesinambungan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

 2. ENGINEERING  

 Rekayasa dan Riset dalam bidang teknologi dan keteknikan dapat dilakukan untuk mencegah suatu kecelakaan.

3. ENFORCEMENT

Penegakan Peraturan K3 dan pembinaan berupa pemberian
sanksi harus dilaksanakan secara tegas terhadap pelanggar peraturan K3. Penerapannya harus konsisten dan konsekwen.

 4. EMERGENCY RESPONS

 Setiap karyawan atau orang lain yang memasuki tempat kerja yang memiliki potensi bahaya besar harus memahami langkah–langkah penyelamatan bila terjadi keadaan darurat.

 Pengetahuan Dasar Keselamatan Kerja.


Prinsip Dasar :

F       Tenaga kerja berhak untuk mendapatkan jaminan keselamatan dalam melakukan pekerjaan (UU No.1 Th 1970).

F       Tujuan K3 untuk melindungi tenaga kerja dan mengamankan asset perusahaan dari resiko kecelakaan.

F       Kecelakaan kerja menurunkan produktivitas.

F       Tenaga kerja bukan komoditas (deklarasi Philadelphia 1944).

F       2 hal penting terkait issue perburuhan dalam perjanjian WTO 1996 di Singapore :

1.       ILO sebagai badan yang menetapkan standar perburuhan.

2.       Standar perburuhan tidak akan digunakan untuk keperluan proteksi perdagangan bebas.

F       Standar K3 (termasuk SMK3) merupakan bagian dari standar perburuhan.

Latar Belakang Kebijakan :

*        K3 masih belum mendapatkan perhatian yang memadai semua pihak.

          Masalah K3 masih belum menjadi prioritas program.

          Tidak ada yang mengangkat masalah K3 menjadi issue nasional baik secara politis maupun sosial.

          Masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan tidak pernah dilihat dari pendekatan moral.

          Tenaga kerja masih ditempatkan sebagai faktor produksi dalam perusahaan, belum ditempatkan sebagai mitra usaha. Alokasi anggaran perusahaan untuk masalah K3 relatif kecil.

*        Kecelakaan kerja yang terjadi masih tinggi.

*        Pelaksanaan pengawasan masih bersifat parsial dan belum menyentuh aspek manajemen.

*        Relatif rendahnya komitment pimpinan perusahaan dalam hal K3.

*        Kualitas tenaga kerja berkorelasi dengan kesadaran atas K3.

*        Tuntutan global dalam perlindungan tenaga kerja yang diterapkan oleh komunitas perlindungan hakburuh internasional.

*        Desakan LSM internasional dalam hal hak tenaga kerja untuk mendapatkan perlindungan.

SMK3 diatur dalam Permenaker No.05/MEN/1996 tentang SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA dengan tujuan :

1.       Menempatkan tenaga kerja sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia.

2.       Meningkatkan komitmen pimpinan dalam melindungi tenaga kerja.

3.       Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja untuk menghadapi globalisasi.

4.       Proteksi terhadap industri dalam negeri.

5.       Meningkatkan daya saing dalam perdagangan internasional.

6.       Mengeliminir boikot LSM internasional terhadap produk ekspor nasional.

7.       Meningkatkan pencegahan kecelakaan melalui pendekatan system.

8.       Pencegahan terhadap problem sosial dan ekonomi terkait dengan penerapan K3.

 C. Sistem Manajemen Resiko K3 di Indonesia :

 Betapa perlunya penerapan SMK3 juga semakin nyata karena adanya perubahan tuntutan customer satisfaction (kepuasan pelanggan) dari negara-negara importir, yang mempersyaratkan pelaksanaan SMK3 oleh negara pengekspor.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dr. Ir. Erman Suparno, MBA, Msi. menegaskan, penerapan  K3 pada dasarnya menjadi perhatian pemerintah. Sebab dengan menjaga keselamatan dan kesehatan kerja, maka tentu dampaknya pada peningkatan kualitas dan produktivitas kerja, sekaligus akan tercipta suatu hubungan industrial yang sehat, harmonis, inovatif dan kreatif pada masing-masing perusahaan.

           

Berkenaan dengan itu, maka berdasarkan pasal 87 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Indonesia telah mengembangkan SMK3. Dalam hal ini pemerintah sangat mengharapkan dan terus mendorong agar setiap perusahaan benar-benar menerapkan SMK3 yang terintegrasi dalam sistem manajemen perusahaan bersangkutan. Untuk itu, pemerintah juga melaksanakan gerakan memasyarakatkan K3 melalui kampanye, seminar, pemberian penghargaan bagi perusahaan yang mencapai zero accident dan lain-lain.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatnya intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.

Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan perkembangan pembangunan yang dilaksanakan maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.

Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya personil pengawasan, sumber daya manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar berjalan dengan baik.

 Tujuan dan sasaran yang termuat dalam SMK3 ini adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Sayangnya, masih sedikit perusahaan di Indonesia yang berkomitmen untuk melaksanakan pedoman SMK3 dalam lingkungan kerjanya. Menurut catatan SPSI, baru sekitar 45% dari total jumlah perusahaan di Indonesia (data Depnaker tahun 2002, perusahaan di bawah pengawasannya sebanyak 176.713) yang memuat komitmen K3 dalam perjanjian kerja bersama-nya. Jika perusahaan sadar, komitmennya dalam melaksanakan kebijakan K3 sebenarnya dapat membantu mengurangi angka kecelakaan kerja di lingkungan kerja. Dengan sadar dan berkomitmen, perusahaan akan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan kondisi kerja yang aman dan sehat. Komitmen perusahaan yang rendah ini diperburuk lagi dengan masih rendahnya kualitas SDM di Indonesia yang turut memberikan point dalam kejadian kecelakaan kerja, data dari Badan Pusat Statistik tahun 2003 menunjukkan bahwa hanya 2.7% angkatan kerja di Indonesia yang mempunyai latar belakang pendidikan perguruan tinggi dan 54.6% angkatan kerja hanya tamatan SD.

D. SMK3 Internasional

 OHSAS–Occupational Health and Safety Assesment Series-18001 merupakan standar internasional untuk penerapan SMK3. Tujuan dari OHSAS ini sendiri tidak jauh berbeda dengan tujuan SMK3 Permenaker, yaitu meningkatkan kondisi kesehatan kerja dan mencegah terjadinya potensi kecelakaan kerja dan mencegah terjadinya potensi kecelakaan kerja karena kondisi K3 tidak saja menimbulkan kerugian secara ekonomis tetapi juga kerugian non ekonomis seperti menjadi buruknya citra perusahaan.


        Cikal bakal OHSAS 18001 adalah dokumen yang dikeluarkan oleh British Standards Institute (BSI) yaitu Occupational Health and Safety Management Sistem-Specification (OHSAS) 18001:1999.

OHSAS 18001 diterbitkan oleh BSI dengan tim penyusun dari 12 lembaga standarisasi maupun sertifikasi beberapa negara di dunia seperti, Standards Australia, SFS Certification dan International Certification Services.

 Standar OHSAS mengandung beberapa komponen utama yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam penerapan SMK3 demi pelaksanaan K3 yang berkesinambungan yaitu :

 1.       Adanya komitmen perusahaan tentang K3.

2.       Adanya perencanaan tentang program-program K3.

3.       Operasi dan Implementasi K3.

4.       Pemeriksaan dan tindakan koreksi terhadap pelaksanaan K3 di perusahaan.

5.       Pengkajian manajemen perusahaan tentang kebijakan K3 untuk pelaksanaan berkesinambungan.

 Seiring dengan upaya pelaksanaan OHSAS dalam perusahaan, muncullah suatu konsep baru sebagai akibat praktek OHSAS 18001 dalam manajemen perusahaan. Konsep baru tersebut dikenal dengan nama Green Company.

PT. Wijaya Karya atau WIKA yang merupakan salah satu perusahaan BUMN yang telah menerapkan OHSAS 18001 dalam manajemennya. WIKA adalah sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi. Bidang pekerjaan dengan tingkat resiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi.

 Karena alasan itulah, manajemen WIKA sangat berkomitmen dalam imlementasi SMK3 dan pengawasan terhadap pelaksanaannya secara terus menerus di seluruh jajaran unit kerjanya. Komitmen WIKA dalam pelaksanaan SMK3 telah mengantarnya sebagai pelopor penerapan SMK3 sesuai standard internasional OHSAS 18001 untuk perusahan jasa konstruksi. Bahkan pada November 2005 WIKA memperoleh penghargaan sebagai Indonesia’s Most Caring Companies for Safety Award 2005. 

Januari 2006 WIKA mendapatkan penghargaan Zero Accident dari Depnaker dan Bendera Emas dari PT. Sucofindo sebagai perusahaan yang peduli terhadap penerapan SMK3. Bahkan berbagai proyek baru mengalir untuk WIKA salah satunya karena komitmen WIKA ini, sebuah keuntungan yang patut dipertahankan.

E. KESIMPULAN

·         Tenaga kerja yang berkualitas mempunyai daya saing yang tinggi

·         Kualitas tenaga kerja mempunyai korelasi erat dengan kecelakaan kerja.

·         Program SMK3 berpengaruh langsung terhadap produk perusahaan.

Kecelakaan kerja kontra produktif terhadap efisiensi dan berpengaruh terhadap daya saing.

5 Komentar leave one →
  1. Januari 3, 2009 9:41 am

    Semoga standar OHSAS ini tidak menjadi bahan objekan bahkan menjadi dasar untuk pemalsuan sertifikat (kalau ada sertifikatnya) hehehe…ijajah universitas saja bisa dipalsukan..terlalu banyak yang palsu dinegeri ini.
    Pesan-pesan K3 di negeri ini terlalu banyak berupa ancaman, misalnya “awas bisa mati” dan lain sebagainya “awas…bahaya…” tetapi tetap saja dilanggar.
    Saya pernah lihat perhatikan di pabrik-pabrik atau industri (di LN) hampir tidak ada kata awas…melainkan seperti “keluarga anda menunggu di rumah…” dan “Anda bekerja dengan senang pulang bergembira dengan keluarga.”
    Ngomong-ngomong UU atau K3 untuk para supir angkutan umum dan pelaku Lalulintas lainnya perlu juga dibuat atau diterapkan, meskipun sudah ada hukumnya.

    *Yang supir ini agak susah juga, diwajibkanpun pake seat-belt bahkan sampe ditilang segala..tetap juga enggan utk memakainya, kesadaran akan K3 itu sendiri memang masih rendah di masyarakat kita*

  2. maryati permalink
    Maret 25, 2009 6:30 am

    keselamatan kerja??it’s so important,i think..
    jaminan keselamatan kerja harus diperhatikan oleh setiap perusahaan,banyak perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan mereka.padahal dibalik keberhasilan perusahaan ada pekerja yang sangat berjasa,namun sering kali keselamatan kerja mereka sering diabaikan,tidak jarang perusahaan hanya menganggap sebagai budak yang bisa di beli,aduh…miris
    seharusnya dengan adanya UU K3,perusahaan lebih melek terhadap keselamatan pekerjanya, jangan hanya memasang peringatan saja, ya gag akan mempan..berikan sangsi kepada perusahaan yang tidak mau mmperhatikan keselamatan pekerjanya!!!untuk menuju indonesia yang lebih baik.
    “besarnya suatu negara karena berdiri di kaki kecil bangsanya”

  3. Debby permalink
    Januari 15, 2010 12:46 pm

    thank info na

  4. Juli 23, 2012 5:18 am

    Hey there! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog. Is it very hard to set up your own blog? I¡¯m not very techincal but I can figure things out pretty quick. I¡¯m thinking about setting up my own but I¡¯m not sure where to start. Do you have any ideas or suggestions? Thanks

  5. Januari 12, 2013 9:10 pm

    please info. apa sanksi hukum bagi perusahaan yang tidak menerapkan aturan K3 ? aturan dan undang-undang mana yang menyatakan itu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: