Skip to content

Biar Sehat, Menikah Yuuukk!

Januari 18, 2009
PERKAWINAN  merupakan jawaban bagi masalah kekosongan eksistensial manusia. Orang dapat saling memberi dan menerima cinta secara eksklusif. Setiap pasangan berpeluang untuk bersama-sama mengembangkan diri menjadi pribadi yang sehat dan matang. Mengapa menunda-nunda perkawinan di usia yang telah matang?
Pada dasarnya manusia terpanggil untuk hidup berpasang-pasangan. Manusia dapat menemukan makna hidupnya dalam perkawinan. Sebagian orang menganggap bahwa perkawinan membatasi kebebasannya, tetapi bagaimanapun sebagian besar dari kita dapat mengakui bahwa perkawinan memberikan jaminan ketenteraman hidup.   Crooks & Baur dalam bukunya, Our Sexuality (1990), menyebutkan beberapa alasan mengapa seseorang memilih untuk melanjutkan hidupnya dalam lembaga perkawinan. Alasan-alasan tersebut adalah :

 

  1. Untuk memberikan suatu bentuk perasaan yang sifatnya menetap tentang bagaimana memiliki seseorang dan menjadi milik seseorang serta perasaan dibutuhkan orang lain.
  2. Keyakinan bahwa kedekatan dan kepercayaan dalam perkawinan dapat membawa suatu bentuk hubungan yang lebih kaya dan mendalam sifatnya.
  3. Untuk dapat melakukan dan mendapatkan hubungan seks yang sifatnya legal dan wajar secara norma sosial.
  4. Harapan bahwa mereka akan semakin memahami kebutuhan pasangannya, dan hubungan yang tercipta semakin harmonis seiring dengan semakin dalamnya pengetahuan akan pasangannya. Hal ini jelas tidak cukup didapatkan bila dilalui hanya dalam konteks hubungan percintaan saja (date relationship).
  5. Mendapatkan beberapa keuntungan secara keuangan dan hukum yang bisa diperoleh dalam pernikahan.

Mengapa Menunda?
Dikisahkan ada seorang wanita cantik yang memilih tetap melajang di usia 43 tahun. Pilihan melajang disebabkan orang yang dicintainya telah menikah dengan wanita lain, dan ia tidak pernah dapat jatuh cinta dengan pria lainnya. 

Kisah lajang yang lain, seorang pria, mengaku sangat menikmati pekerjaannya sebagai kepala cabang sebuah perusahaan penyedia peralatan medis. Di usia yang telah menginjak 33 tahun, ia belum berniat menjalin hubungan serius dengan lawan jenis. 

Ia menyukai relasinya dengan banyak orang, baik pria maupun wanita, tanpa merasa butuh mengikatkan diri dengan seseorang sebagai pasangan hidup. Ia beralasan bahwa pernikahan hanya akan mengurangi kebebasannya untuk bergaul dengan siapa saja. Meskipun demikian, ia juga tidak yakin, apakah hidup tanpa pasangan memang baik baginya di masa depan.

Masih banyak lajang-lajang yang lain, yang telah berusia menjelang 30 tahun atau lebih, tetapi masih ingin menunda perkawinan. Marilah kita menengok alasan-alasan mengapa orang belum mau menikah di usia yang telah sangat matang. 

Alasan yang mengemuka antara lain: (1) belum menemukan orang yang cocok; (2) belum mengenal pasangan secara mendalam; (3) takut mengganggu karier yang sedang dibangun; (4) masih menjadi tulang punggung keluarga dan belum siap membagi tanggung jawab lebih untuk orang selain keluarga; (5) masih ingin bebas, masih ingin menikmati kesendirian; (6) belum merasa mapan secara ekonomi; (7) belum siap secara mental; dan lain-lain.

Sungguh banyak hal yang dapat menjadi alasan atau pertimbangan sebelum seseorang memutuskan untuk menikah. Alasan pertama dan kedua dapat dikatakan sebagai alasan yang mendasar karena perkawinan sebagai relasi yang intim memang seharusnya dilandasi kecocokan dan saling pengertian antarpasangan. 

Dua alasan tersebut lebih banyak berkaitan dengan masa depan emosi cinta. Tanpa itu, hubungan sulit diharapkan dapat berhasil. Sementara itu, alasan ketiga dan seterusnya sifatnya sangat subjektif: ukurannya berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Dengan kata lain, alasan-alasan tersebut masih dapat ditawar. 

Mantapkan Keputusan
Mengingat banyaknya sisi positif dari perkawinan, bagi yang masih ragu-ragu untuk melangkah ke jenjang perkawinan, berikut disajikan saran-saran sesuai dengan alasannya yang menyebabkan keraguannya untuk menikah.  

Jika Anda merasa belum mengenal pasangan Anda secara mendalam, yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang ada (misalnya melalui pertemuan-pertemuan) untuk saling mengenal lebih dalam kelebihan kekurangan pasangan. Jangan membuang waktu hanya untuk bersenang-senang! 

Bagi Anda yang takut bahwa pernikahan akan menghalangi pencapaian karier yang diangan-angankan (terutama bagi wanita), lebih baik pikiran itu dibuang jauh-jauh. Diskusikan dengan calon pasangan Anda, dan tetapkan komitmen masa depan karier masing-masing, bagaimana mengaturnya agar dapat diwujudkan bersama.

Bayangkan bahwa karier akan lebih nyaman untuk dijalani dengan dukungan pasangan. Dukungan pasangan adalah salah satu dukungan sosial (social support) terbaik dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. 

Di sisi lain, jika Anda masih menjadi tulang punggung keluarga, tentu Anda dapat menunggu sebentar sampai ada anggota keluarga (misalnya adik) yang dapat mandiri dan bersama-sama berbagi beban dan tanggung jawab. 

Masih ingin bebas? Apakah jika sudah menikah Anda tidak akan bebas lagi? Bukankah semuanya berpulang pada komitmen Anda dengan pasangan? Tentu saja Anda masih dapat menjalankan segala akivitas Anda dengan bebas di bawah kesepakatan dengan pasangan. 
Dalam hal ini Anda menjalankan kebebasan dalam tanggung jawab, bukan? Ataukah masih ingin menikmati kesendirian? Sampai kapan? Jangan sampai nanti Anda justru menyesali setiap waktu yang terlewati dalam kesendirian itu. We can’t turn back the hand of time.

Belum merasa mapan secara ekonomi? Ini adalah alasan yang banyak ditemui dalam masyarakat (terutama pria). Sebenarnya sederhana saja: Menabunglah ketika Anda sudah bekerja. Sedikit demi sedikit. Itu akan sangat membantu kelak. 

Banyak pula yang berpendapat bahwa jika menunggu mapan, kemapanan akan semakin sulit diraih karena tanpa sadar kita menaikkan standar kemapanan versi kita sendiri. Mereka yang mengatakan hal tersebut juga menyatakan: Menikahlah, maka Anda akan segera merasa “mapan!”

Lalu, bagaimana jika Anda belum merasa siap secara mental? Hal ini tentu saja bukan hal sepele. Di mana Anda belum siap? Di bagian apa? Mengapa? Kira-kira apa jalan keluarnya? Mungkin saja butuh waktu sampai Anda benar-benar merasa siap, tetapi tentu saja pada akhirnya keputusan tetap harus diambil bukan?

Pertunangan
Ada sebuah cara yang lazim dilakukan untuk lebih mengikat fisik dan terutama hati pasangan serta belajar lebih siap menghadapi pernikahan, yaitu dengan melaksanakan pertunangan (engagement). Kata orang, dengan pertunangan pasangan kita bisa lebih terjaga. Benarkah? 

Pertunangan sering juga dilakukan untuk melicinkan jalan suatu pasangan menuju ke gerbang pernikahan. Namun, ada suatu fakta yang dikemukakan oleh Benokraitis (1996) yaitu pasangan Octavio Gullen dan Adriana Martinez dari Meksiko yang menghabiskan waktu selama 67 tahun dalam ikatan pertunangan dan memastikan satu dengan yang lainnya adalah orang yang tepat sebelum menikah. 

Fakta ini pasti akan membuat kita tersenyum. Salah satu yang melintas di benak kita adalah, masih bagus salah satu dari mereka belum dijemput ajal. Seandainya demikian, pertunangan itu tak akan pernah berakhir.

Dalam semangat religius, pernikahan adalah sesuatu yang sakral; menikah adalah ibadah. Kenapa harus menghindarinya? Segala ketakutan dan trauma masa lalu (jika ada) akan terhapus melalui tangan waktu dan kebahagiaan yang menanti di balik optimisme. 

Saat berpacaran masing-masing individu sebaiknya belajar untuk menjadi lebih dewasa, dan saat menikah proses belajar tersebut terus berlanjut dan memasuki tahap yang lebih tinggi. 

HAPPY WEDDING !

M.M. Nilam Widyarini, MSi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Guna Dharma, Jakarta/Kompas.com
12 Komentar leave one →
  1. Januari 18, 2009 7:46 pm

    kalo buat saya, alasan belom menikah ya #5 and #6

    *U #5 saya tak bisa coment, #6 manusia secara umum mempunyai sifat apabila mendapat satu gunung emas…dia akan menginginkan gunung emas yg lain, jadi klo itu alasanmu bos…keadaan ekonomi tak akan pernah merasa mapan dan merasa cukup, kebutuhan selalu ada dan ada, TUPA DO SUDE I ANNON!, ayo..buruan😀*

  2. Januari 18, 2009 10:12 pm

    Saya menikah di usia 30 tahun dan saya menyesalinya mengapa tidak lebih cepat. Ternyata setelah menikah karir saya malah menanjak. Mungkin karena menikah rasa tanggungjawab itu lebih besar dan itu membuat kita bekerja lebih serius. Ayo tunggu apa lagi?

    *Nah…boy, mudah2an kamu baca ini bos😀*

  3. Januari 19, 2009 9:20 am

    Biasanya yg udah umuran 40thn baru nikah itu .. org nggak percaya diri loh.. takut jatuh miskin
    dan yg ke 2.. nunggu punya rumah baguslah… punya mobillah.. baru nikah… akhirnya nggak punya-punya… jadi lambat deh

    *Sai dipaima jolo adong on, jolo adong an..hape ari senin tgl 26 on gerhana matahari nama ate Lae?😀*

  4. Januari 19, 2009 11:07 am

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://keluarga.infogue.com/biar_sehat_menikah_yuuukk_

  5. Januari 19, 2009 11:29 am

    Tulisannya betul semua. Masalah buat saya hanya satu. Saya sudah menikah. Ajakannya berlaku gak buat saya (lagi). He..he he he

    *Oooops…ajakan ini nggak berlaku untuk Lae, holan manjaha ma jolo…sombakku Lae!😀*

  6. Hiras T.H Purba permalink
    Januari 19, 2009 2:12 pm

    Pada umumnya mungkin takut gak bisa bebas lagi lae, apalagi sampai dikuasai istri nantinya bisa repot pajak nanti. He…he..he

    *Tapi sampai kapan ya Lae takut nggak bisa bebas? *

  7. Hiras T.H Purba permalink
    Januari 19, 2009 2:30 pm

    Horas lae, amang pandita par-lapotimus lagi sibuk ngerjain thesisnya, deadline sebentar lagi makanya blognya gak diupdate, mohon dukungan doa dari semuanya biar cepat selesai, sukses di ujian dan segera diwisuda.
    *OK Lae dimengerti, harapan kita lancar semuanya khususnya untuk beliau*

  8. Januari 19, 2009 7:14 pm

    Tapi jgn salah ito, ada juga orang sebelum menikah sehat walafiat tp setelah menikah malah sakit2 an, boha mai…? Mungkin tertekan ama istrinya kaleee yeee….! Mknya pintar2lah cari calon, gak perlu cantik yg penting hatinya…. dangi pariban Hiras???

    Malah ada jg yg menunggu calon yg sudah mapan di segala bidang. Masing2 punya rumah dulu. Alai holan dung saut pintor marbadai, alana dua-duanya merasa bisa, rasa ego dipertaruhkan.
    Lebih baik di mulai dari nol, supaya tidak ada yg merasa hebat.

    Emang yang mau nikah siapa sehhh….?

    *Sakit stlh menikah, na tertekan bathin do mungkin i ito, mulai dari nol sama2 mandasor banyak memang orang berpendapat demikian.
    Yang mau nikah…tentu yg belum nikah to!😀
    *

  9. Hiras T.H Purba permalink
    Januari 20, 2009 12:21 am

    Botul itu pariban.
    Saya lihat di Surabaya banyak tipikal orang yang tertekan seperti itu.
    Kita boleh sayang sama istri, tapi bukan berarti harus takut sama istri bukan?
    Sepertinya pariban ini udah pengalaman juga, biasa jadi tempat curhat ya pariban ?

    u/ lae Eston
    Kayaknya topik ini menarik untuk lebih dikembangkan lagi. Coba dipikirkan bos! Masing-masing bisa membagikan pengalamannya, sehingga yang muda-muda bisa mengambil hikmahnya.

    *Mudah2an sumbernya ada Lae :D*

  10. Januari 20, 2009 11:14 am

    ooo gitu ya ternyata?? hmmm….udah berpengalaman semua ni kayaknya. Jd pengen cepat mengikuti jejak abang/kakak/namboru/tulang/amangboru/nantulang (yg tdk tersebutkn maap ya.)
    knp saya blom merit? alasan no 8 (kalo saya merit skarang bisa di usir saya dari keluarga sinaga. kata bpk saya “kuliah dulu yg bener!!”).
    wahhh, kayakny saya harus meminta bpk saya untuk baca artikel ini deh… :))

    *Wah….No. 1 sampai 7 sudah tuntas ya?,
    Ops!…bpk jgn disuruh lg baca ini, ntar…hahaha
    Burju-burju ho singkola Inang da? Ingot tona ni oma dohot bapa sian huta, unang jo marhallaeti da?*

  11. Januari 22, 2009 2:38 pm

    hehehe..bener lae, salah satu yg bikin saya lambat menikah karena terlalu asik dengan teman2…nongkrong sana-sini….ngopi sana-sini…
    lupa dengan “kewajiban hidup” yang satu ini..
    akhirnya begitu dapet pacar langsung di geber…gak lama merit deh..trus setahun kemudian lahirnya putri cantik kami…

    puji Tuhan…

    horas,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com
    *Banyak memang Lae..terutama di kota besar yg terlalu asik dgn ‘glamour’ hidup ini, dan buat teman2 yg blm ada undangan itu di http://tanobatak.wordpress.com (bagi yg berminat sekalian cari jodoh :D)*

  12. Juli 23, 2012 5:18 am

    I¡¯ve also been thinking the identical thing myself lately. Grateful to see another person on the same wavelength! Nice article.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: