Skip to content

Doa Tahun Baru

November 26, 2008

Dengan kunjungan teman sekampung dari Bakkara, Hiras TH Purba di Muara Nauli  dia mau pulang dengan alasan (alasan apa ya…), saya jadi teringat akan cerita ini :

Keluarga Ompu Lambas termasuk KB (keluarga besar) dikampungnya Muara Nauli. Dia memiliki 9 orang anak, 5 laki-laki dan 4 perempuan dan semuanya sudah berumah tangga dan sudah pada punya anak. Anak-anak Ompu Lambas ini termasuk perantau yang berhasil, anak-anaknya di perantauan selalu berhubungan satu sama lain secara langsung maupun lewat telepon sehingga mereka selalu bisa atur waktunya untuk pulang bersama-sama pada Hardiknas (Hari Mudik Nasrani) yakni pada saat menjelang Natal atau Tahun Baru.

Menjelang Natal pada waktu itu, merekapun pulang secara bersama-sama ke Muara Nauli, sungguh sangat bahagia-lah perasaan Ompu Lambas karena dia bisa bertemu dengan semua anak (sebutan untuk anak laki-laki), parumaen (menantu dari anak laki-laki), boru (anak perempuan), hela (menantu dari anak perempuan) dan pahompu-nya (cucu).

Seperti umumnya keluarga Batak, pada malam Tahun Baru diadakanlah acara tutup tahun dan menyambut Tahun Baru dengan acara kebaktian pada jam 24.00 di rumah Ompu Lambas. Demi pertimbangan waktu acara kebaktian pada malam/subuh itu dipersingkat dengan acara Bernyanyi dan Doa Pembukaan dari pembawa acara dari anaknya yang paling sulung, secara bergantian nyanyi dan doa dari boru, cucu dan terakhir doa penutup dari Ompu Lambas.
Pada waktu doa penutup dari Ompu Lambas, cukup panjang doa yang dipanjatkannya, diurutkannya nama anaknya satu persatu, “anakku siangkangan, si nomor dua, dst….karena rasa bahagia dan syukur, keturunannya bisa berkumpul pada waktu itu.

Setelah selesai berdoa dilanjutkan dengan acara ramah tamah, salam-salaman, maaf-maafan. Semuanya merasa senang pada waktu itu. Dan setelah semua acara terlewati, sewaktu duduk-duduk datanglah cucu-cucunya mengerumuni Ompu Lambas dan seorang cucunya bertanya, “Ompung ! waktu ompung tadi berdoa, semua ompung doakan tapi anak ompung yang nomor lima tidak ada ompung doakan, kenapa ompung?”, kata cucunya. “Ah..nggak kau dengarnya itu ompung, (ada kalanya kakek panggil ompung sama cucunya) semuanya ompung doakan”, sahut Ompu Lambas. “Nggak…ompung, nggak ada ompung doakan anak ompung nomor 5, ompung lupa ya !”, kata cucunya mendesak Ompu Lambas. “Ah..nggak ada lupa ompung, kaliannya nggak perhatikan”, kata Ompu Lambas menimpali. Karena cucunya tetap mendesak Ompu Lambas, terakhir diapun menjawab, “TOHO DO I OMPUNG, DANG HUTANGIANKON ANAKKU NOMOR LIMA I, AI SO HEA I MANGIRIM” (Betul itu ompung, tidak ada ompung doakan anak ompung nomor lima karena dia nggak pernah ngirim uang sama ompung). Cucunyapun menyahut dengan serempak seperti koor, “Oooo….Oo, gitu rupanya…”

Jadi buat teman-teman yang ngeblog dan tidak ada rencana mudik pada Natal dan Tahun Baru kali ini, Sotung lupa mangkirim tu huta ate!, so tung so masuk annon tu daftar sitangianghonon…:D

2 Komentar leave one →
  1. Hiras T.H Purba permalink
    November 27, 2008 9:20 am

    Ha..ha…ha, ada-ada aza lae kita ini.
    Memang bagi orang Batak, momen pergantian Tahun Baru adalah saat yang paling ditunggu-tunggu, bahkan mungkin melebihi momen Natal sekalipun (gak tahu sebabnya apa?) dan seperti yang diceritakan “parjabu” on di atas, ritual mandok hata dan berdoa satu persatu adalah hal yg paling menegangkan.
    Cukup banyak mungkin pengalaman pribadi kita masing-masing, baik yang menggelikan maupun yang membuat air mata “ngalir” dikit yg pernah kita alami pada saat tersebut.
    Saya juga ingin ikut nimbrung sedikit menceritakan pengalaman di keluarga kami (permisi ya lae).
    Waktu itu pergantian tahun 1989/1990, kami KB juga, dgn 6 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan ngumpul semua menjelang pergantian tahun. Yang sudah menikah 3 orang yaitu yang perempuan, sedangkan yang laki-laki belum ada satu pun yang udah nikah (walau sudah Panglatu).
    Sesuai giliran sebagai yang terakhir berdoa biasanya adalah bapak (almarhum), beliau berdoa seperti ini:
    “Sai pasu-pasu ma ale Tuhan nang dohot angka parumaen kami”. Kami yang mendengarnya sudah agak geli juga sambil nahan ketawa, wong parumaennya belum ada koq sudah didoakan.
    Pas beliau bilang Amen, semuanya langsung tertawa, bahkan ada yg sampe guling-guling karna sudah gak kuat menahan ketawanya sejak tadi. Malah bapak yg bingung koq ketawa semua pikirnya, pas dibilangin tentang doanya, almarhum jg jadi ikut tertawa. “Bah nga sega” ninna, “ala ni hirim ni roham marparumaen ma i” laos ninna muse.
    Tapi doanya kesampaian juga sih, satu tahun kemudian abang kami yg tertua akhirnya menikah (mungkin mikir jg dia).
    Songoni ma jolo, ditambai angka dongan muse.

    *Ha..ha…ha..ternyata Lae punya simpanan juga.*

  2. martinasiregar permalink
    Desember 11, 2008 1:33 pm

    Hahaha..
    lucu negh ceritanya..
    kalo aq ga pernah ngerayain taon baruan di kampung opung. berhubung karena kerjaan PapaQ yg malah paling sibuk saat natal n taon baruan. jadi ngiri negh baca ceritanya…..

    *Klo saya ngiri lihat Pendeta-nya…..sepertinya hidupnya lebih tenang dan bahagia*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: