Skip to content

Makna Berbagi

November 8, 2008

Kiriman : E@ster Sinurat

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran Anda? Mungkin berbagi dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako, susu, atau berbagi makanan. Ya, semua jawaban biasanya dalam bentuk materi. Itu mungkin karena di kepala kita telah tertancap ide-ide materialistik yang sudah mengglobal, mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.


Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti
asuhan
 dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan
Ramadhan
 dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan
seorang bocah manis dan lucu. Dia masih sekolah kelas nol besar. Siapa namamu
nak? sapa ayah saya.  Nama saya Nina Om, jawabnya manja.  Nina sudah
punya sepatu baru? tanya ayah saya.  Sudah om, dikasih Abah (pemimpin
panti). Nina juga sudah punya baju baru urai Nina.
Kalau begitu Nina mau apa?  tanya ayah saya. Nggak ah ntar Om marah jawab
Nina.  Nggak sayang, Om nggak akan marah, ayah saya menimpali. Nggak ah
ntar Om marah, Nina mengulang jawabannya. Ayah saya berpikir, pasti yang
diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah saya semakin
menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.
Ayo Nak katakan apa yang kamu minta sayang, pinta ayah saya. Tapi janji ya Om tidak marah? jawab Nina manja. Om janji tidak akan marah sayang, tegas ayah saya. Bener Om nggak akan marah? sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala.

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, seberapa
mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya
tidak akan marah. Sambil tersenyum Ayah mengatakan ayo Nak, katakan, jangan
takut, Om tidak akan marah Nak. Bener ya Om nggak marah?, ujar Nina sambil
terus menatap wajah ayah saya. Sekali lagi ayah saya menganggukkan kepala.
Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya Mmmm, boleh gak mulai malam ini saya memanggil Om. .dengan paggilan Ayah?. Nina sedih gak punya ayah
Mendengar jawaban itu, Ayah saya tak kuasa membendung air matanya. Segera dia peluk Nina, tentu Anakku.. tentu Anakku mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om. Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata terima kasihayah, terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu
beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu dan kakak-kakakmu, apa yang kamu minta nak? 
Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah, jawab Nina.
Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau
yang lain, pasti akan Ayah kasih. jelas Ayah saya.
Nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak Nina, boleh kan Ayah? Nina memohon sambil memegang tangan Ayah.
Tiba-tiba kaki Ayah lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina
sambil bertanya, buat apa foto itu Nak?
Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini
ibu Nina, ini kakak-kakak Nina. Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di hari itu. Terima kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta,maka kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain
merasakan keberadaan kita di dunia.

Dikutip dari Jamil Azzaini 
  
Apakah anda tahu
hubungan antara 2 biji mata anda? Mereka berkelip bersama, bergerak bersama,
menangis bersama, melihat bersama dan tidur bersama malah menutup pandangan
terakhir pun bersama, meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama
lain…kecuali melalui cermin…..persahabatan seharusnya seperti itu…
kehidupan akan kurang ceria tanpa sahabat…minggu ini adalah “MINGGU
KAWAN SEDUNIA”… siapa kawan anda? kirim message ini tuk semua kawan anda
termasuk saya jika saya salah seorang kawan anda….lihat berapa banyak anda
dapat kiriman balik dari mereka… jika anda mendapat lebih daripada 3, itu
bermakna ILOVE U ALL KEEP OUR BROTHER HOOD thanks peace love and embrance.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: